Senin, 27 Mei 2013

mental juara bukan sekedar bohongan

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pembentukan sikap mental juara, antara lain: menjadikan kita pribadi yang mandiri , cerdas , percaya diri, tidak cepat putus asa, serta menjadi sosok pribadi yang siap dan terbiasa untuk memecahkan masalah (problem solver). Sikap mental juara adalah bagaimana sikap kita supaya menang atau ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik dalam setiap langkah kita. Dengan jalan menghargai sekecil apapun prestasi yang kita miliki, dengan begitu kita juga akan belajar untuk menghargai orang lain, dan nyaman menjadi diri kita sendiri. Untuk membentuk Mental Juara dibutuhkan 7 sikap antara lain :

1. Kita membutuhkan kesempatan ,dukungan dan kerja sama , dari mana saja.
Ketika kita mulai berusaha dan bekerja, seluruh sel-sel tubuh kita mulai dari kaki, tangan hingga otak bekerja bersama-sama. Kita juga membutuhkan kerja sama dari orang orang di sekitar kita ayah, ibu, kakak, adik, guru ,kerabat , sahabat, teman, serta tetangga, Jika kita serius berusaha dan bekerja maka mereka tergerak untuk membantu dan akhirnya pekerjaan kitapun berhasil dan sukses. Kesempatan, dukungan dan kemenangan terjadi dari mana saja. Kesuksesan tidak akan datang pada orang yang sombong, boros (waktu dan uang) serta menyepelekan hubungan baik dengan orang lain. Dalam hal kemenangan atau Kesuksesan jika dikaitkan dengan konsep sederhana fisika, bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis , serius  atau fokus maka setiap partikel di sekelilingnya bekerja serentak untuk mencapai titik ideal.



2. Kesempatan , dukungan dan kemenangan terjadi ketika kita mau melangkah.  Tantangan dan hambatan akan senantiasa hadir dalam setiap langkah kehidupan. Dukungan , kesempatan dan kemenangan terjadi bila kita tidak takut untuk terus melangkah, Semua berawal dari niat dan kegigihan.



3. Niat / Kemauan kuat dan Kritis akan melahirkan kreativitas.

Salah satu ciri mental juara adalah pioneer (perintis) yang memiliki kreativitas tinggi. Belajar memecahkan masalah yang sulit akan membuat seseorang menjadi cerdas, semakin sering  kita berhasil memecah-kan masalah yang sulit semakin cerdaslah kita. Namun jika kita merasa tidak bahagia di dalam hati (tidak nyaman, resah, gelisah dan sejenisnya) menandakan ada suatu yang salah dalam kehidupan kita.  Untuk itu kita harus berbuat sesuatu, kita harus bisa mengubahnya, sehingga dari ketidaknyamanan itu bisa merubah kita ke arah yang lebih baik dan membuat kita bahagia.


4. Fokus pada tujuan Hidup.

Kita harus memiliki tujuan hidup dan focus pada tujuan hidup kita, artinya jika kita tahu kemana kita akan pergi maka kita akan menemukan jalan dan segala yang kita butuhkan untuk menuju kesana dengan demikian proses pencapaian yang kita jalaninya memiliki tujuan-tujuan yang jelas.


5. Memiliki Impian .

Impian atau cita-cita merupakan titik awal sebuah proses pencapaian, milikilah impian dan cita cita setinggi tingginya dan dengan niat , semanggat dan tekad yang kuat raih dan wujudkan impian dan cita cita kita.


6. Tekun dan tidak ada kamus menyerah dalam meraih kemenangan.

Bermental juara berarti siap untuk terus berusaha dan melakukan yang lebih baik dan tidak mengenal kata ”gagal”. Kekalahan hanyalah kemenangan yang tertunda. Terus yakinkan diri kita bahwa kita selalu dapat berbuat lebih baik dari waktu ke waktu , Kita pantang bicara ”tidak mungkin”.Segala sesuatu adalah mungkin asal kita berupaya.


7. Kemenangan butuh waktu dan kesabaran.

Kemenangan merupakan proses yang tidak didapatkan dalam sekejap. Namun dari ketekunan dan proses panjang yang telah kita lewati pada akhirnya akan ada banyak hasil yang kita capai.

Kehidupan tak lepas dari persaingan atau kompetisi. Setiap anak adalah spesial, mereka tentu terlahir dengan bakat yang berbeda-beda. Untuk itu, mulailah dengan cerdas memilih jenis kompetisi yang sesuai dengan kesenangan atau bakat si anak. Jangan jadikan kompetisi sebagai sesuatu yang malah menekan anak

 

Sebelum ikut kompetisi

Sebelum mengikuti lomba, ada baiknya orantua memberikan gambaran menyeluruh tentang lomba yang akan diikuti. Beritahukan “medan”, tujuan mengikuti lomba, dan tanamkan konsep menang dan kalah.

Saat anak Anda menang, berikan reward yang positif sebagai tanda Anda menghargai usaha, bakat dan kerja kerasnya. Reward tidak selalu berbentuk materi, bisa saja dengan bentuk pelukan, ciuman, pujian, atau sekedar diajak ke tempat yang ia sukai

Saat anak Anda kalah, berikan penguatan yang positif dan jangan jadikan hal ini sebagai suatu masalah. Misalnya “ Wah tidak apa-apa sayang, kan adek sudah usaha. Kereen lho tadi adek. Lain kali kita coba lagi yuk”.

Berikan kepada anak, kesempatan seluas-luasnya dengan mengikuti berbagai macam perlombaan sesuai dengan minat anak. Sehingga terbangun semangat pantang menyerah, semangat berjuang dan mendidik mental juara

Perlukah orangtua membuat target?

Target boleh-boleh saja, tapi jangan sampai tuntutan orangtua melebihi kemampuan anak. Jadikan sebagai sesuatu yang menyenangkan sekaligus juga sebagai ajang eksplorasi bagi orangtua untuk mengetahui bakat anak.

Jadikan kompetisi sebagai ajang untuk mengukur kemampuan anak. Bandingkan dengan dirinya sendiri antara kemarin dan sekarang misalnya. Apakah ada peningkatan? Jangan sekali-kali dibandingkan dengan anak yang lain

  • Bagaimana mengatasi rasa canggung atau grogi saat anak tampil di muka umum?

Sebelum tampil maka sebaiknya ada try out terlebih dahulu. Misalnya anak tampil di depan orangtuanya dulu, atau tampil di depan teman sebayanya. Dan jangan lupa selalu memberi dorongan yang positif
  • Kalau terlalu sering menang anak kadang menjadi sombong, bagaimana mengatasinya?

Ikutkan anak dalam kompetisi yang variatif. Jangan monoton hanya lomba yang itu-itu saja dimana anak selalu menang. Sebaiknya kayakanlah anak dengan berbagai ragam perasaan, termasuk merasakan kekalahan

Seperti apa mental juara?


  • Mental Juara Bukan Untuk Olah Raga Saja

Tentu saja, yang dimaksud mental juara itu bukanlah dalam bidang olah raga saja. Bukan dalam pertandingan saja, tetapi juga untuk berbagai bidang lainnya. 
  • Juara Sejati Memiliki Sikap Sportif

Tentu saja, yang dimaksud disini bukan cara meraih juara dengan menghalalkan segala cara. Seorang juara sejati akan selalu bertindak sportif. Apa jadinya jika kita juara tetapi didapat dengan cara yang tidak baik? Maka sesungguhnya gelar juara akan terasa semua. Anda tidak benar-benar juara, hanya secara resmi saja.
Berlaku curang, sikut kiri sikat kanan, dan mencuri start bukanlah sikap seorang juara sejati. Juara sejati berusaha untuk menjadi yang terbaik, bukan sekedar mencari gelar juara. Selalu ingin menjadi yang terbaik adalah mental juara yang benar, bukan sekedar mendapatkan gelar, penghargaan, bonus, atau piala.
  • Percaya Diri
Salah satu mental juara itu adalah percaya diri. Dia yakin bahwa dia mampu menjadi juara. Hanya orang yang percaya dirilah yang berani masuk gelanggang untuk bertanding. Percaya dirilah yang akan menjadi dia bertindak dengan cara yang terbaik.
  • Juara Itu Bukan Berarti Sombong
Seorang juara sejati akan bertindak, kemudian melakukan apa yang dia lakukan sebaik mungkin. Bukan dengan cara hanya omdo (omong doank) sambil menjatuhkan dan menjelekan lawannya. Sikap seperti ini sama sekali tidak menggambarkan mental juara. Justru, sikap sombong datang karena dia tidak percaya diri menjadi juara. Dia akan berusaha menjatuhkan lawan dengan omongan supaya dia dianggap juara.
  • Juara Sejati Mengakui dan Menerima Kekalahan
Dia tahu, bahwa kekalahan bukanlah kiamat. Mungkin dia tidak menjadi juara pada pertandingan kali ini. Tetapi dia tidak berhenti, dia mengambil hikmah sehingga pada pertandingan berikutnya dia bisa tampil lebih baik lagi. Dia tidak menyesal, tidak terpukul, dan tidak juga menyalahkan lawan. Menyalahkan lawan hanya akan menutup mata kita melihat kekurangan diri untuk diperbaiki.

Tips dan mental juara: berani bersuara

Membangun mental juara sungguh berat. Salah satunya adalah berani bersuara, baik itu bertanya kepada guru atau menjawab pertanyaan. Ada 2 hal yang menyebabkan hal ini menjadi berat, yaitu:
  1. untuk bertanya, ada perasaan takut ditertawakan atau dianggap bodoh oleh teman-teman lainnya.
  2. untuk menjawab, ada perasaan takut salah, yang ujung-ujungnya kembali menjadi bahan tertawaan dan olok-olok.
Untuk menumbuhkan keberanian bersuara, perlu adanya keyakinan diri yang tinggi, dan cukup muka tebal dan mental baja menghadapi olok-olok dari teman, yang belum tentu mereka pun berani berpendapat atau bertanya. Keberanian bersuara di dalam kelas, di depan orang banyak, terlebih dalam suatu acara yang dihadiri oleh banyak orang tak dikenal seperti seminar, merupakan mental juara yang belum tentu dimiliki oleh seorang juara kelas,Oleh karena itu, kalau anda sudah berani bersuara di depan umum, saat belajar di kelas misalnya, maka anda sudah mempunyai mental juara. tinggal dipoles sedikit lagi, agar semua yang disuarakan berbobot, sehingga teman-teman justru akan respek kepada anda.
Mempersiapkan pertanyaan yang berkaitan dengan bahan pelajaran yang akan diajarkan, kemudian menanyakannya di dalam kelas saat pelajaran, adalah salah satu tips yang sangat berguna. Kalau anda bisa melakukannya, maka anda sudah menjadi  juara. Karena keaktifan di kelas akan sangat dihargai oleh guru, dan bisa jadi anda akan dianggap pintar oleh guru dan teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar